MENGHIDUPKAN TANAH DAN MENYAMBUT TANAMAN BERTUMBUH SUBUR

MENGHIDUPKAN TANAH DAN MENYAMBUT TANAMAN BERTUMBUH SUBUR

(Dengan 3 Cairan Ampuh)


Tanaman tidak tumbuh subur bukan karena kurang pupuk, tapi karena tanahnya tidak hidup. Tanah yang mati adalah tanah yang menolak udara, retak saat panas terik, tidak ada pertukaran udara dan udara di dalam tanah, dan acuh tak acuh terhadap pupuk, seolah olah mati rasa terhadap rasanya nutrisi. Pupuk hanya memberi makan tanaman, tapi tidak memberi makan kehidupan tanah.

Tanah harus tidak mati, tapi harus hidup dan aktif.  Tanaman tidak makan diberi pupuk, tapi mikroba lah yang memberi nutrisi (zat hara) bagi tanaman.

Tanah yang hidup dan sehat tidak terbuat dari mineral di dalamnya, tapi terbuat dari kehidupan, miliaran mikro orgnisme (mikroba) dari bakteri dan jamur hingga protozoa dan cacing tanah membutuhkan jaringan hidup yang menguraikan bahan organik di dalam tanah, menciptakan struktur tanah, dan memberi nutrisi (zat hara) untuk makan tanaman, dan menahan udara seperti spons hidup agar udara tidak merembes terlalu jauh di bawah akar tanaman.

Tulisan Resep bertani ini membantu orang/petani dalam berkebun dengan percaya diri menggunakan kebijaksanaan, biologi, dan kiat-kiat praktis yang telah teruji, yaitu menghidupkan kembali tanah dengan menggunakan "3 Cairan Ampuh" yang mengaktifkan biologi di dalam tanah, membangunkan mikroba, proses alami berkebun, dan menyuburkan tanaman bertumbuh. Ini tentang cara memulihkan tanah yang mati hanya dengan menggunakan sisa-sisa dapur, proses fermentasi, dan pemahaman mendalam tentang cara kerja kehidupan mikroskopis. Teknik ini sangat praktis, murah, alami, dan praktis.

Jika kehidupan tanah hilang, maka pemberian pupuk hanya untuk makan tanaman, namun pupuk tetap di sana tidak terpakai, menumpuk dalam lapisan tanah yang sebenarnya membuat tanah lebih keras, lebih kering, dan lebih tidak ramah bagi akar tanaman.

Tanaman tidak mengabaikan nutrisi, hanya saja tanaman tidak dapat mengaksesnya karena biologi yang mengirimkan nutrisi tersebut sudah hilang.

Untuk mengatasi hal di atas, "3 Cairan Ampuh" ini sangat ampuh dalam melakukan apa yang tidak dapat dilakukan pupuk, ia memulihkan biologi, ia membangun mikro organisme, ini mendorong jamur untuk membangun kembali remah-remah tanah, mendukung cacing tanah yang pada gilirannya menciptakan saluran untuk udara dan udara di dalam tanah dekat perakaran tanaman, mengubah tanah yang mati dan rapuh menjadi hidup dan aktif, hanya dalam beberapa minggu bahkan hari akan membuat tanah menjadi hidup dan bernafas kembali. Dengan "3 Cairan Ampuh" ini dapat memberi makan tanah, mulsa (gulma) mulai terurai secara alami, dan tanaman mulai tumbuh subur.

I. Air Cucian Beras (Air Leri)

Cairan cucian beras (air leri) ini berfungsi membangun tanah. Cairan ini adalah cairan probiotik yang tidak memberi makan tanaman secara langsung, tapi memberi makan organisme hidup yang menjaga tanah agar tetap hidup.

Air leri mengandung partikel pati yang menjadi energi instan bagi mikroba bermanfaat, terutama bagi bakteri asam laktat (BAL) yang bertindak seperti penolong pertama untuk tanah yang rusak. Mikroba yang dihasilkan dapat menguraikan bahan organik yang keras dan menekan pertumbuhan tanaman. Patogen berbahaya (unsur perusak) memanaskan tanah yang padat dan menciptakan fondasi bagi ekosistem bawah tanah yang sehat.

Air leri di fermentasi secara aerob, dikontrol, bersih, dan aman, ditutup dalam wadah yang tutupnya dikencangkan dengan karet gelang, di fermentasi selama 2-3 hari, disimpan di tempat sejuk dan teduh tanpa terkena sinar matahari langsung. Fermentasi akan berhasil sukses dengan tanda-tanda air leri mengeluarkan aroma asam ringan seperti yogurt, roti penghuni pertama, atau acar, berarti mikroba telah bangun, cairan mulai terpisah, ini berarti mikroba telah mengambil alih.

Manfaat Air Leri Fermentasi
  • Membangun Tanah:  Kandungan pati dalam air leri adalah sumber energi instan bagi mikroba baik.
  • Aktivitas Bakteri Asam Laktat (BAL):  Proses fermentasi mengaktifkan BAL yang berperan sebagai "penolong pertama" untuk memperbaiki tanah rusak, mengurai bahan organik keras, dan memanaskan tanah padat.
  • Probiotik Tanah:  Mikroba dalam air leri membantu menekan pertumbuhan patogen berbahaya (unsur perusak) di dalam tanah.
  • Ekosistem Kesehatan:  Menciptakan lingkungan bawah tanah yang sehat, yang mendukung pertumbuhan akar tanaman. 
Cara Fermentasi Air Leri (Aerob/Anaerob Terkendali)
  1. Pengumpulan:  Gunakan air cucian beras pertama (paling pekat).
  2. Wadah:  Masukkan ke dalam wadah atau toples bersih.
  3. Teknik Tutup:  Tutup rapat, namun disarankan untuk memberikan ruang sekitar 10% di bagian atas wadah untuk menghindari gas berlebih. Kencangkan tutup dengan karet gelang atau penutup yang membiarkan sedikit udara keluar masuk (aerob/anaerob fakultatif).
  4. Lama Fermentasi :  Diamkan selama  2-3 hari .
  5. Penyimpanan:  Simpan di tempat sejuk, kering, dan teduh (hindari sinar matahari langsung). 
Tanda Fermentasi Berhasil
  • Aroma:  Mengeluarkan aroma asam ringan seperti yogurt, akar, atau roti  penghuni pertama .
  • Kondisi Fisik:  Cairan mulai terpisah (ada endapan di bawah dan cairan bening di atas), menandakan mikroba telah bekerja/aktif. 
Catatan: Jika aroma busuk menjadi menyengat, fermentasi kemungkinan gagal dan sebaiknya tidak digunakan, segera buang cepat cairan busuk ini.
Pengaplikasian Air Leri Murni Fermentasi Pada Tanah
Pengaplikasian air leri (cucian beras) fermentasi murni tanpa EM4 ke tanah dilakukan dengan mengencerkan 10-20 ml POC leri dalam 1 liter air, lalu dikocorkan (disiram) ke area perakaran 1-2 kali seminggu. Fermentasi alami dilakukan 7-10 hari hingga aromanya seperti tape, kemudian diencerkan dengan perbandingan 1:3 atau 1:5 sebelum aplikasi. 
Berikut adalah panduan detail pengaplikasiannya:
  • Fermentasi Alami (Tanpa EM4):
    • Tampung air cucian beras pertama dan kedua dalam botol atau wadah tertutup.
    • Diamkan (fermentasi) selama 7 hingga 10 hari. Buka tutup wadah setiap hari untuk mengeluarkan gas agar tidak meledak.
    • Fermentasi berhasil jika aroma menjadi seperti tape/asam manis dan muncul sedikit busa.
  • Pengenceran:
    • Sebelum diaplikasikan, campurkan 10-20 ml air leri fermentasi (POC) dengan 1 liter air bersih, atau rasio dengan 1:3 hingga 1:5 (POC:Air).
  • Cara Aplikasi pada Tanah:
    • Metode Kocor (Penyiraman Tanah):  Siramkan larutan yang sudah encer ke media tanah di sekitar perakaran tanaman.
    • Dosis:  Berikan sekitar 250 ml larutan per tanaman.
    • Interval:  Lakukan aplikasi 1-2 kali seminggu untuk meningkatkan kesuburan tanah dan kesehatan akar.
  • Tips Tambahan:
    • Jika tanah menjadi terlalu lembap atau asam, tambahkan arang sekam atau arang kayu untuk menetralkan pH dan memperbaiki struktur tanah. 
Penggunaan fermentasi leri murni membantu meningkatkan mikroorganisme tanah tanpa perlu starter komersial seperti EM4. 
Pengaplikasian Air Leri + EM4 Fermentasi Pada Tanah
Air leri fermentasi (pupuk organik cair/POC) diaplikasikan ke tanah dengan cara Sebaiknya terlebih dahulu menggunakan air bersih (rasio 1:5 hingga 1:10) untuk menghindari keasaman berlebih. Siramkan larutan ke area perakaran (kocor) sekitar 250 ml per tanaman, atau semprotkan ke tanah secara merata, seminggu sekali untuk hasil optimal. 
Berikut adalah panduan detail pengaplikasian air leri fermentasi di tanah:
  • Pentingnya Pengenceran:  Air leri yang sudah difermentasi (biasanya menggunakan EM4 selama 3-7 hari) sangat pekat. Encerkan 1 liter POC air leri dengan 5-10 liter air bersih.
  • Teknik Aplikasi (Kocor/Siram):
    • Siramkan campuran air leri fermentasi langsung ke tanah di sekitar akar tanaman.
    • Cara ini membantu mikroorganisme dalam air leri memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan kesuburan tanah.
    • Volume penyiraman sekitar 250 ml atau secukupnya hingga tanah basah.
  • Teknik Aplikasi (Semprot):
    • Larutan encer (10 ml POC + 1 liter udara) dapat disemprotkan ke permukaan tanah dan bagian bawah tanaman.
  • Waktu dan Frekuensi:
    • Lakukan aplikasi 1-2 kali seminggu atau setiap 5-7 hari sekali.
    • Aplikasi paling baik dilakukan pada pagi atau sore hari.
  • Peringatan:  Jangan menyiram terlalu sering untuk mencegah kelembapan berlebih yang dapat memicu jamur atau hama di media tanam. 
Dengan cara ini, zat organik dan mikroba dalam air leri dapat terurai menjadi nutrisi yang siap diserap tanah dan tanaman. 

Alternatif Lain

Campuran cairan air leri (cucian beras) fermentasi, hidrogen peroksida (
H 2 HAI 2 huruf H sub 2 huruf O sub 2
H 2 O 2
), dan asam sitrat(asam sitrat) dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas tanah, namun penggunaannya memerlukan kehati-hatian tinggi karena sifat bahan yang bertolak belakang. 
Berikut adalah analisis manfaat dan risiko dari campuran tersebut untuk menghidupkan tanah: 
1. Peran Masing-Masing Bahan 
  • Fermentasi Air Leri (Nutrisi & Mikroba):Mengandung karbohidrat, vitamin B1, mineral, dan mikroba positif hasil fermentasi yang berfungsi meningkatkan nutrisi tanah dan merangsang pertumbuhan akar.
  • H 2 HAI 2 huruf H sub 2 huruf O sub 2
    H 2 O 2
    Bedak (Sterilisasi/Oksigenasi):
    Dalam dosis yang tepat,
    H 2 HAI 2 huruf H sub 2 huruf O sub 2
    H 2 O 2
    Melepaskan oksigen yang membantu pernapasan akar dan membunuh patogen/jamur yang merugikan di tanah.
  • Bubuk Asam Sitrat (Pengatur pH):Asam sitrat menurunkan pH tanah (mengasamkan) dan membantu melepaskan nutrisi yang mengikat dalam tanah. 
2. Bagaimana Campuran Ini "Menghidupkan" Tanah 
Jika diracik dengan dosis yang sangat rendah dan tepat, campuran ini bisa: 
  • Meningkatkan Oksigen Tanah:
    H 2 HAI 2 huruf H sub 2 huruf O sub 2
    H 2 O 2
    mencegah kondisi tanah menjadi anaerob(kurang oksigen) yang sering membuat akar busuk.
  • Mengaktifkan Mikroba:Air leri menyediakan karbon (makanan) untuk mikroba tanah, sementara
    H 2 HAI 2 huruf H sub 2 huruf O sub 2
    H 2 O 2
    membantu sterilisasi ringan terhadap patogen.
  • Menurunkan pH Tanah:Cocok untuk tanah alkalin/basa agar unsur hara lebih mudah diserap tanaman. 
3. Risiko dan Peringatan Penting 
  • H 2 HAI 2 huruf H sub 2 huruf O sub 2
    H 2 O 2
    Dapat Membunuh Mikroba Baik:
    Penggunaan
    H 2 HAI 2 huruf H sub 2 huruf O sub 2
    H 2 O 2
    dengan konsentrasi tinggi tidak hanya membunuh patogen, tetapi juga mikroba baik yang menyuburkan tanah.
  • Efek Kontradiktif:Fermentasi air leri bertujuan meningkatkan aktivitas mikroba, sementara
    H 2 HAI 2 huruf H sub 2 huruf O sub 2
    H 2 O 2
    adalah disinfektan (pembunuh mikroba). Jangan mencampurkan
    H 2 HAI 2 huruf H sub 2 huruf O sub 2
    H 2 O 2
    langsung ke dalam air leri yang sedang difermentasi
    karena akan membunuh bakteri pemroses (EM4/laktobasilus).
  • Asam Sitrat Berlebihan:Terlalu banyak asam sitrat dapat membuat tanah terlalu asam (pH terlalu rendah), yang beracun bagi akar tanaman. 
4. Cara Penggunaan yang Aman (Rekomendasi) 
Untuk "menghidupkan" tanah, gunakan metode ini: 
  1. Fermentasi air leri terlebih dahulu(hingga aromanya asam segar, tidak busuk) selama 7-14 hari.
  2. Saat akan diaplikasikan, encerkan air fermentasi dengan air tanah.
  3. Campurkan asam sitrat dalam jumlah sedikit untuk menyesuaikan pH tanah jika tanah terlalu basa.
  4. H 2 HAI 2 huruf H sub 2 huruf O sub 2
    H 2 O 2
    sebaiknya diaplikasikan secara terpisah
    (misalnya seminggu setelah POC leri) untuk memberikan kesempatan berkembangnya mikroba, atau gunakan konsentrasi sangat rendah (1-2 sendok teh per 10 liter udara).
     
Kesimpulan:Campuran ini efektif memperbaiki tanah yang sakit (kepadatan tinggi, pH basa, banyak patogen) jika digunakan dengan dosis sangat rendah dan hati-hati. 

Catatan: Pastikan tanah memiliki drainase yang baik agar tidak terjadi kemacetan zat.


Bahan Tambahan Agar Ph Tanah berbasis Sekitar 7:

Campuran cairan air leri (cucian beras) fermentasi, H2O2 (hidrogen peroksida), dan asam sitrat (asam sitrat) berpotensi kuat untuk "menghidupkan" tanah, namun memiliki karakteristik kimia yang kompleks.
Berikut adalah analisa dan bahan tambahan agar pH tanah mencapai sekitar 7:
Analisis Campuran
  • Air Leri Fermentasi:  Kaya mikroba baik dan nutrisi organik.
  • H2O2 (Hidrogen Peroksida):  Oksidator kuat yang meningkatkan oksigen tanah, memecah bahan organik, dan membunuh patogen. H2O2 umumnya bersifat netral/sedikit asam.
  • Asam Sitrat (Asam Sitrat):  Zat ini sangat asam . Penggunaannya dalam campuran ini akan menurunkan pH tanah secara signifikan (menjadi asam). 
  • Dampak Keseluruhan:  Campuran ini akan menghasilkan tanah yang sangat kaya oksigen dan hara, tetapi pH-nya akan sangat rendah (asam) akibat asam sitrat.   
Bahan untuk mengatur pH ke 7 (Netral)
Agar pH tanah naik dari asam menjadi sekitar 7, Anda perlu menambahkan bahan basa/pembenah tanah. Bahan yang paling direkomendasikan adalah:
  1. Kapur Dolomit (Kalsium Magnesium Karbonat):  Ini adalah cara terbaik dan paling umum digunakan untuk menetralkan tanah asam. Dolomit mengandung CaO dan MgO yang meningkatkan pH secara efektif.
  2. Abu Bakar (Abu Kayu/Sekam):  Kaya kalium dan bersifat basa, sangat efektif menaikkan pH secara alami.
  3. Kapur Kalsit (Kalsium Karbonat):  Sama seperti dolomit, berfungsi meningkatkan pH tanah.
  4. Kapur Karang/Kulit Kerang:  Sumber kalsium alami yang lambat untuk menaikkan pH. 
Cara Aplikasi yang Disarankan
Agar efektif dan tidak membunuh mikroba baik dari air leri, lakukan langkah berikut:
  1. Fermentasi Air Leri:  Melakukan fermentasi air leri selama 7 hari (bisa ditambah gula merah/EM4).
  2. Aplikasi Terpisah:  gunakan kapur dolomit terlebih dahulu ke tanah, diamkan 1-2 minggu. Setelah itu siram tanah dengan campuran air leri + H2O2 + air (tanpa asam sitrat).
  3. Penyesuaian Campuran:  Jika tetap ingin mencampur semuanya, tambahkan Kapur Dolomit secara langsung ke dalam larutan campuran tersebut untuk langsung menetralkan asam sitrat sebelum disiram ke tanah.   

Catatan Penting:  H2O2 tidak disarankan dicampur dengan larutan organik lain (POC) atau pestisida secara bersamaan karena dapat menurunkan efektivitasnya. Aplikasi terbaik adalah aplikasi kapur untuk tanah, diikuti penyiraman pupuk cair secara berkala. 
Campuran cairan air leri (cucian beras) murni yang difermentasi, H2O2 (Hidrogen Peroksida), dan Citric Acid (asam sitrat) berpotensi kuat untuk "menghidupkan" tanah, tetapi perlu perlakuan khusus untuk mencapai pH netral (7).
Berikut adalah analisis dan panduannya:
1. Analisis Campuran: Air Leri + H2O2 + Citric Acid
  • Air Leri Fermentasi: Kaya akan nutrisi (N, P, K, Mg) dan Bakteri Asam Laktat (BAL) yang menyuburkan tanah. Namun, hasil fermentasi cenderung asam.
  • H2O2 (Hidrogen Peroksida): Bertindak sebagai oksidator kuat yang menambah oksigen ke dalam tanah, membantu akar bernapas, membunuh patogen/jamur merugikan, dan memperbaiki struktur tanah.
  • Citric Acid (Asam Sitrat): Berfungsi menurunkan pH (asam) dan sering digunakan untuk menetralkan tanah yang terlalu basa, atau membantu pelepasan unsur hara. 
Kesimpulan: Campuran ini bersifat sangat asam. Jika langsung disiramkan ke tanah, terutama tanah yang sudah masam, dapat membuat pH tanah semakin rendah dan berisiko merusak akar tanaman.
2. Cara Menetralkan Tanah Menjadi pH 7
Campuran tersebut perlu ditambahkan bahan pengatur pH yang bersifat basa (alkalin) untuk menetralkan asam dari hasil fermentasi dan sitrat.
  • Natrium Bikarbonat (Baking Soda): Bisakah digunakan? Ya, tetapi dengan hati-hati. Natrium bikarbonat adalah basa yang bisa menaikkan pH. Namun, penggunaan berlebihan dapat meninggalkan residu natrium (garam) yang tidak baik bagi tanah dalam jangka panjang. Gunakan dalam jumlah sangat sedikit hanya untuk penyesuaian pH larutan sebelum diaplikasikan.
  • Alternatif Terbaik (Dolomit): Untuk menaikkan pH tanah ke angka 7, bahan yang paling direkomendasikan adalah Kapur Dolomit (CaMg(CO₃)₂). Dolomit meningkatkan pH sekaligus memberikan unsur Kalsium dan Magnesium.
  • Alternatif Lain: Asam humat juga dapat membantu menyeimbangkan pH. 
3. Panduan Penggunaan yang Aman
Agar tanah benar-benar "hidup" tanpa merusak keseimbangan pH:
  1. Fermentasi Air Leri: Lakukan selama 10-15 hari hingga aromanya segar asam (bukan busuk).
  2. Pencampuran: Campurkan air leri fermentasi dengan air biasa (encerkan 1:10 atau 1:20).
  3. H2O2 dan Sitrat: Tambahkan H2O2 food grade (konsentrasi rendah 3%) secukupnya untuk oksigenasi. Tambahkan asam sitrat sedikit saja hanya jika tanah Anda basa. Jika tanah sudah asam, hindari penambahan asam sitrat.
  4. Menetralkan pH (Cara Utama): Berikan kapur dolomit ke tanah sebelum menyiramkan campuran air leri.
  5. Aplikasi: Siramkan pada tanah di pagi atau sore hari, terutama di area perakaran. 
Ringkasan: Campuran Anda bagus untuk nutrisi dan oksigen tanah, tetapi harus dinetralkan dengan Dolomit, bukan hanya natrium bikarbonat, untuk mencapai pH 7 yang stabil.

II. Jus Tanaman Fermentasi (FPJ = Jus Tanaman Fermentasi)

Jus Tanaman Fermentasi (FPJ -  Fermented Plant Juice ) adalah pupuk organik cair buatan sendiri yang kaya akan nitrogen, nutrisi mikro, dan enzim, yang berfungsi sebagai penggerak pertumbuhan (booster) tanaman. FPJ dibuat dengan memfermentasi bagian tanaman yang tumbuh cepat dengan gula merah/molase. 
Berikut adalah panduan lengkap cara membuat FPJ berdasarkan metode  Korean Natural Farming  (KNF): 
1. Bahan dan Alat
  • Bahan Tanaman (1 kg):  Pilih ujung tunas, daun muda, atau tanaman yang tumbuh cepat (contoh: kangkung, genjer, rumput muda, atau tunas ketiak tanaman yang sehat).
  • Gula Merah/Molase (1 kg):  Gunakan rasio 1:1 antara berat tanaman dan gula.
  • Wadah:  Stoples kaca atau ember plastik (hindari logam).
  • Kertas/Kain Penutup:  Kain tipis atau kertas koran dan gelang karet (tidak boleh ditutup rapat).
  • Pemberat:  Batu bersih atau wadah air kecil untuk menekan. 

Penambahan sedikit gliserin (gliserol) ke dalam  Fermented Plant Juice  (FPJ) umumnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas fisik dan stabilitas lingkungan tersebut. Berikut adalah hasil atau efek yang terjadi:
  • Peningkatan Daya Simpan (Pengawetan):  Gliserin bersifat higroskopis (menarik udara) dan bakteriostatik (menghambat pertumbuhan mikroba), sehingga penambahannya dapat membantu memperpanjang masa simpan FPJ dengan menghambat kontaminasi mikroba yang tidak diinginkan.
  • Stabilitas Lebih Baik:  Gliserin membantu menstabilkan formula FPJ dengan mengatur kelembapan dan memperlambat penguapan udara dari larutan, membuatnya lebih tahan lama.
  • Sebagai Penambah (Adjuvant) Semprot:  Jika FPJ digunakan sebagai semprotan daun ( foliar spray ), gliserin berfungsi sebagai perata ( spreader ) dan pengikat ( sticker ) yang membantu larutan menempel lebih baik pada permukaan daun.
  • Menjaga Konsistensi:  Gliserin memberikan tekstur yang sedikit kental dan mencegah FPJ menjadi terlalu encer atau cepat teroksidasi. 
Secara umum, penambahan gliserin dalam jumlah sedikit (dalam persentase rendah) ke dalam FPJ akan menghasilkan produk yang lebih stabil, tahan lama, dan memiliki kualitas fisik yang lebih baik untuk penerapan pertanian.

2. Langkah-langkah Pembuatan (Metode 1:1)
  1. Panen di Pagi Hari:  Petik bahan tanaman (terutama tunas muda) sebelum matahari terbit untuk mendapatkan embun yang kaya enzim.
  2. Cincang dan Timbang:  Cincang bahan tanaman (ukuran 5-10 cm). Jangan dicuci agar mikroorganisme alami tidak hilang. Timbang beratnya untuk menentukan jumlah gula yang sama (1:1).
  3. Campurkan:  Campurkan tanaman dan gula merah dalam wadah besar, remas-remas perlahan agar gula menempel di permukaan daun.
  4. Isi Wadah:  Masukkan campuran ke dalam stoples. Jangan isi sampai penuh, maksimal 2/3 bagian saja agar ada ruang untuk bernapas.
  5. Tutup dengan Gula:  Beri lapisan gula tambahan di bagian atas untuk mencegah jamur.
  6. Fermentasi:  Tutup dengan kain/kertas, ikat dengan karet. Simpan di tempat sejuk dan teduh selama 5-7 hari.
  7. Saring:  Setelah 5-7 hari, saring cairan dan simpan dalam botol. Hasil akhir adalah FPJ. Sisa ampas tanaman bisa dijadikan kompos. 
3. Ciri-ciri FPJ Berhasil
  • Aroma:  Manis, berbau seperti alkohol atau wangi fermentasi (tidak busuk).
  • Warna:  Cokelat cair.
  • Jamur/Jamur:  Jika muncul jamur putih di permukaan, itu normal. Jika jamur berwarna hitam atau berbau busuk, FPJ gagal. 
4. Cara Aplikasi (Penggunaan)
FPJ adalah konsentrat,  wajib izin  sebelum digunakan: 
  • Rasio:  Campurkan 1–2 ml FPJ ke dalam 1 liter udara (rasio 1:500 atau 1:1000).
  • Cara:  Semprotkan pada daun (foliar spray) atau kocor pada tanah.
  • Waktu:  Aplikasikan seminggu sekali, terutama pada fase vegetatif. 
Manfaat FPJ
  • Nutrisi Tinggi:  Menyediakan nitrogen dan zat pengatur tumbuh (ZPT) alami.
  • Merangsang Pertumbuhan:  Membuat daun lebih hijau, batang kuat, dan mempercepat pertumbuhan tanaman.
  • Penyiraman Benih:  Bisa digunakan untuk merendam benih sebelum ditanam. 

Catatan: Pastikan menggunakan bahan tanaman yang tidak terkena pestisida. 
Menambahkan sedikit gliserin (gliserol) ke dalam   Fermented Plant Juice (FPJ)  
Penambahan sedikit gliserin (gliserol) ke dalam  Fermented Plant Juice  (FPJ) umumnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas, stabilitas, dan umur simpan cairan tersebut. Gliserin bertindak sebagai agen penstabil dan pelindung mikroba.
Berikut adalah hasil dan efek penambahan gliserin pada FPJ:
1. Hasil pada Campuran FPJ (Fisik dan Kimia)
  • Humektan dan Stabilitas:  Gliserin bertindak sebagai humektan yang kuat, mengikat udara, mengurangi penguapan, dan menjaga kelembaban campuran.
  • Pengawet Alami:  Karena kemampuannya mengikat udara (menurunkan aktivitas udara), gliserin membantu mengurangi kontaminasi mikroba yang tidak diinginkan, menjaga stabilitas fisik FPJ, dan mencegah fermentasi berlebih yang merusak.
  • Tekstur:  Meningkatkan viskositas (kekentalan) FPJ. 
  • Meningkatkan Stabilitas:  Gliserin bertindak sebagai pengawet alami yang menstabilkan campuran, membantu mencegah perpecahan komponen, dan memperpanjang umur simpan FPJ.
  • Mengurangi Penguapan:  Sebagai humektan (penarik udara), gliserin menahan kelembaban dan mengurangi penguapan udara dari polusi, sehingga campuran tidak cepat kering.  
  • Meningkatkan Viskositas:  Menambah sedikit kekentalan (viskositas) pada FPJ.
  • Mengurangi Efek "Terbakar" (pada Aplikasi):  Dalam beberapa konteks aplikasi organik, gliserin dapat mengurangi sifat tajam atau korosif dari larutan fermentasi murni. 
2. Efek pada Mikroba Bermanfaat dalam FPJ
Gliserin bekerja sebagai  stabilizer  dan  pengkondisi  bagi mikroba bermanfaat (seperti  Lactobacillus  spp.) dalam FPJ:
  • Melindungi abilitas Vi (Pelindung Mikroba):  Gliserin sangat efektif dalam melindungi sel mikroba dari stres lingkungan, menjaga mikroba bermanfaat (seperti Bakteri Asam Laktat/BAL) tetap hidup dan aktif dalam waktu yang lebih lama.
  • Mempertahankan Keaktifan: Sifat higroskopis gliserin menjaga lingkungan mikroba tetap lembab dan stabil, sehingga bakteri asam laktat tetap hidup lebih lama dibandingkan FPJ tanpa bahan tambahan.
  • Pencegahan Kontaminasi:  Dengan menjaga lingkungan yang kurang disukai oleh mikroba perusak, mikroba baik dalam FPJ dapat mendominasi proses fermentasi. 
  • Sumber Karbon Tambahan:  Gliserin dapat bertindak sebagai sumber karbon untuk mendukung pertumbuhan mikroba dalam beberapa proses.
  • Stabilisator:  Membantu menjaga stabilitas komunitas mikroba dalam campuran, mencegah penurunan populasi mikroba secara drastis akibat lingkungan yang tidak stabil. 

Kesimpulan:
Menambahkan sedikit gliserin ke dalam FPJ membuat FPJ lebih stabil secara fisik, lebih tahan lama (tidak mudah busuk), dan menjaga mikroba bermanfaat di dalamnya tetap aktif dan hidup lebih lama. Ini ideal jika Anda ingin menyimpan FPJ untuk jangka waktu yang lebih lama.
3. Jenis Minyak yang Cocok untuk FPJ (Meningkatkan Kualitas)
Selain gliserin, penambahan jenis minyak tertentu sering digunakan untuk meningkatkan nutrisi, menciptakan lapisan anaerobik, atau meningkatkan stabilitas. Minyak yang cocok pada umumnya yang dapat terurai secara alami dan tidak mengandung bahan kimia keras:
  • Minyak Kelapa (Coconut Oil):  Sangat disarankan karena dapat meningkatkan kualitas fisik, membantu menciptakan lapisan tipis di permukaan yang mencegah kontaminasi oksigen berlebih, dan meningkatkan asam lemak bermanfaat dalam larutan.
  • Minyak Ikan (Fish Oil/Fish Emulsion):  Sering ditambahkan pada campuran FPJ/FFJ untuk meningkatkan kandungan nutrisi (NPK dan asam amino) bagi tanah/tanaman, meskipun penggunaannya terbatas agar tidak menimbulkan bau busuk.
  • Minyak Zaitun (Olive Oil):  Dapat digunakan untuk menjaga stabilitas emulsi dalam larutan campuran nutrisi. 
Catatan:  Penambahan minyak sebaiknya dilakukan dalam jumlah sedikit (sebagai pengkondisi/coating) untuk menghindari kondisi anaerobik yang ekstrim yang justru menghentikan proses fermentasi.
Ringkasan
Penambahan sedikit gliserin meningkatkan stabilitas dan umur simpan FPJ, serta melindungi mikroba dengan baik. Minyak kelapa adalah pilihan terbaik untuk meningkatkan kualitas fisik dan nutrisi tambahan.
4. Efek Pengaplikasian pada Tanaman
Penambahan gliserin atau minyak pada FPJ saat diaplikasikan ke tanaman memiliki efek:
  • Meningkatkan Penyerapan (Adjuvant):  Minyak bertindak sebagai surfaktan alami atau agen pembasah ( bahan pembasah ), membuat FPJ menempel lebih lama dan meresap lebih baik di permukaan daun.  
  • Perlindungan Daun (Anti-Transpiran):  Sedikit kandungan minyak/gliserin dapat mengurangi laju transpirasi berlebihan pada daun, membantu tanaman bertahan dalam cuaca panas.
  • Nutrisi Tambahan:  Memberikan nutrisi tambahan organik dan membantu mikroba baik dari FPJ lebih aktif saat diaplikasikan ke tanah. 
Catatan:  Penambahan minyak atau gliserin sebaiknya dalam jumlah sedikit (tipis saja) agar tidak menyumbat stomata daun.

III. Teh Kompos

Pembuatan Teh Kompos  (teh kompos) untuk tanaman dilakukan dengan    merendam kompos matang (atau vermikompos) dalam air non-klorin selama 24-48 jam, seringkali dibantu pompa akuarium untuk aerasi (oksigenasi) agar mikroba berkembang biak. Hasilnya adalah pupuk cair kaya nutrisi yang diaplikasikan langsung ke akar tanaman di dalam tanah atau disemprotkan ke daun. 

Bahan dan Alat:
  • Kompos Matang:  1-2 cangkir (atau secukupnya).
  • Udara:  5 galon (±19 liter), pastikan bebas klorin (udara hujan atau air keran yang diamkan 24 jam).
  • Wadah:  Ember 5-6 galon.
  • Aerator:  Pompa akuarium + batu udara (opsional, tapi sangat disarankan untuk hasil maksimal).
  • Filter :  Kain kasa, kaos kaki bekas, atau karung jaring.
  • Nutrisi (Opsional):  1 sendok makan molase (tetes tebu) untuk makanan mikroba. 
Langkah-langkah Pembuatan:
  1. Siapkan Kompos:  Masukkan kompos ke dalam kantong kain/kaos kaki dan ikat (seperti kantong teh besar).
  2. Isi Ember:  Isi ember dengan udara bebas klorin, masukkan kantong kompos ke dalamnya.
  3. Aerasi:  Pasang pompa udara akuarium, letakkan batu air di dasar ember untuk mensuplai oksigen.
  4. Tambahkan Molase:  Masukkan molase jika digunakan untuk merangsang pertumbuhan mikroba.
  5. Penyeduhan:  Diamkan selama 24 hingga 48 jam. Jika tidak memakai pompa, aduk campuran secara manual 2-3 kali sehari selama 1 minggu.
  6. Penyaringan & Aplikasi:  Setelah berbau segar seperti tanah (tidak busuk), angkat kantong kompos. Cairan teh kompos dapat langsung digunakan, sebaiknya diencerkan dengan udara (perbandingan 1:1) dan diaplikasikan pada pagi atau sore hari. 
Tips Penting:
  • Teh kompos yang baik berbau segar seperti tanah, jika berbau busuk/tengik segera dibuang.
  • Gunakan segera setelah selesai diseduh, maksimal dalam 1 jam setelah pompa dimatikan agar mikroba tetap hidup.
  • Aplikasikan ke akar atau semprot ke daun untuk mencegah penyakit. 

Comments

Popular posts from this blog

GEJALA DAN TANDA PENYAKIT PADA TANAMAN

15 Jenis Tanaman Mengandung Fosfor Tinggi

CARA MEMBUAT POC (PUPUK ORGANIK CAIR) SEDERHANA BAHAN YAKULT, AIR KELAPA, TELUR, MICIN, DAN JUS TEB