Trichoderma dan mikoriza, mikroorganisme yang membantu menekan patogen sekaligus memperkuat sistem perakaran tanaman
Trichoderma dan Mikoriza, mikroorganisme yang membantu menekan patogen sekaligus memperkuat sistem perakaran tanaman
(Oleh: SR Pakpahan, SST)
Cara menyemprotkan fungisida dengan dosis tinggi pada tanaman ketika menghadapi serangan penyakit hama memang terlihat cepat, tetapi sering kali tidak menyelesaikan masalah secara menyeluruh. Tanaman mungkin kembali tumbuh di awal, namun tidak lama kemudian gejala penyakit hama muncul lagi. Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap tanah hanya sebagai tempat berdirinya tanaman. Padahal, tanah merupakan ekosistem kehidupan yang dipenuhi berbagai mikroorganisme, baik yang menguntungkan maupun merugikan tanaman. Jika populasi mikroba patogen di dalam tanah lebih dominan, maka tanaman akan lebih mudah terserang penyakit, termasuk penyakit hama yang disebabkan oleh jamur patogen tanah.
Banyak petani menghadapi masalah penyakit tanaman yang berulang di lahan yang sama. Ketika serangan penyakit hama muncul, langkah yang sering dilakukan adalah menyemprotkan fungisida dengan dosis tinggi, lalu menanam kembali tanaman di lahan tersebut tanpa perbaikan kondisi tanah. Cara ini memang terlihat cepat, tetapi sering kali tidak menyelesaikan masalah secara tuntas. Tanaman mungkin kembali tumbuh di awal, namun tidak lama kemudian gejala penyakit muncul lagi. Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap tanah hanya sebagai tempat berdirinya tanaman. Padahal, tanah merupakan ekosistem kehidupan yang dipenuhi berbagai mikroorganisme, baik yang menguntungkan maupun merugikan tanaman. Jika populasi mikroba patogen di dalam tanah lebih dominan, maka tanaman akan lebih mudah terserang penyakit, termasuk penyakit hama yang disebabkan oleh jamur patogen tanah. Tanah yang sehat bukan sekedar tanah yang subur secara unsur hara, tetapi tanah subur yang memiliki keseimbangan kehidupan mikroba. Ketika mikroba baik lebih dominan, mereka mampu menekan perkembangan patogen secara alami dan membantu tanaman tumbuh lebih kuat. Oleh karena itu, pengendalian penyakit hama tidak cukup hanya dengan penyemprotan fungisida, tetapi juga perlu dilakukan perbaikan kesehatan tanah. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menambahkan mikroba baik seperti Trichoderma dan mikoriza . Mikroorganisme kedua ini berperan penting dalam memperbaiki ekosistem tanah, meningkatkan ketahanan tanaman, serta membantu menekan perkembangan patogen penyebab penyakit pada tanaman.
Trichoderma sp . : Mikroba Baik Pencegah Penyakit Hama Pada Tanaman
Salah satu cara yang semakin banyak digunakan dalam mencegah penyakit hama pada tanaman adalah pemanfaatan mikroba antagonis, yaitu Trichoderma. Mikroorganisme ini dikenal sebagai jamur baik yang mampu membantu menekan perkembangan patogen penyebab penyakit yang hidup di dalam tanah. Cara kerja Trichoderma dalam mengendalikan penyakit hama terjadi melalui beberapa mekanisme. Pertama, Trichoderma mampu bersaing dengan patogen di zona perakaran (rhizosfer). Ketika Trichoderma berkembang baik di sekitar akar, ruang hidup dan sumber makanan yang biasanya dimanfaatkan patogen akan lebih dulu dikuasai oleh mikroba baik ini. Akibatnya, kesulitan berkembangnya patogen dan peluang terjadinya infeksi pada tanaman menjadi lebih kecil. Selain itu, Trichoderma juga memiliki kemampuan menghambat dan menyerang patogen secara langsung. Jamur ini dapat menghasilkan enzim yang mampu merusak dinding sel jamur patogen, sehingga pertumbuhan patogen penyebab penyakit hama dapat ditekan.
Namun, ada beberapa hal penting yang perlu digarisbawahi oleh petani saat memilih produk Trichoderma. Salah satunya adalah jenis atau spesies Trichoderma yang digunakan, seperti Trichoderma asperellum dan Trichoderma yunnanense yang diketahui memiliki kemampuan antagonis yang baik terhadap patogen tanah. Selain jenisnya, bahan pembawa (carrier) juga perlu diperhatikan. Media pembawa seperti arang hasil pirolisis, zeolit, atau bonggol jagung dapat membantu menjaga viabilitas mikroba sert.a mendukung perkembangannya di dalam tanah. Perlu dipahami juga bahwa aplikasi Trichoderma tidak cukup dilakukan sekali saja. Agar populasi mikroba baik tetap stabil dan mampu mendominasi di sekitar perakaran, penerapannya sebaiknya dilakukan secara berkala sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan tanah.
Mikoriza: Sahabat Akar untuk Tanaman yang Lebih Sehat
Selain Trichoderma, mikroorganisme lain yang sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan tanaman adalah mikoriza. Mikoriza merupakan jamur baik yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman. Hubungan ini bersifat saling menguntungkan, tanaman menyediakan sumber energi dari hasil fotosintesis, sementara mikoriza membantu tanaman dalam penyerapan udara dan unsur hara dari tanah.
Salah satu manfaat utama mikoriza adalah memperluas jangkauan penyerapan akar. Jamur mikoriza membentuk jaringan hifa yang sangat halus dan menyebar di dalam tanah. Jaringan ini bekerja seperti perpanjangan akar sehingga tanaman dapat menjangkau udara dan nutrisi dari area tanah yang lebih luas. Dengan sistem penyerapan yang lebih baik, tanaman dapat tumbuh lebih kuat dan tidak mudah mengalami stres. Selain itu, mikoriza juga berperan dalam memperlebat dan memperkuat sistem perakaran. Akar yang lebih banyak dan lebih sehat membuat tanaman memiliki fondasi yang lebih kuat. Kondisi ini secara tidak langsung membantu meningkatkan ketahanan alami tanaman terhadap serangan penyakit tular tanah, termasuk penyakit hama. Hal penting yang perlu digarisbawahi oleh petani adalah cara aplikasinya. Berbeda dengan Trichoderma yang perlu diberikan secara berkala, aplikasi mikoriza umumnya cukup dilakukan sekali saja, yaitu pada saat penanaman. Mikoriza akan langsung berkolonisasi pada akar muda dan terus berkembang mengikuti pertumbuhan akar tanaman selama masa budidaya.
Apakah Mikoriza dan Trichoderma Boleh Digabung?
Pertanyaan yang sering muncul di kalangan petani adalah: bolehkah mikoriza dan Trichoderma diaplikasikan secara bersamaan? Apakah keduanya akan saling berdiskusi? Secara umum, penjelasannya tidak. Kedua mikroorganisme ini justru dapat saling melengkapi dalam mendukung kesehatan tanaman. Hal ini karena keduanya memiliki cara hidup dan lokasi aktivitas yang berbeda. Trichoderma umumnya berkembang di sekitar perakaran atau zona rhizosfer, yaitu daerah tanah yang berada di dekat akar tanaman. Sementara itu, mikoriza bekerja dengan cara yang berbeda. Jamur ini masuk dan berkolonisasi di dalam jaringan akar tanaman. Dari dalam akar, mikoriza membentuk jaringan hifa yang menyebar ke dalam tanah untuk membantu penyerapan udara dan unsur hara. Karena ruang hidupnya berbeda, pada dasarnya mikoriza dan Trichoderma tidak saling mengganggu. Namun demikian, cara aplikasi yang kurang tepat dapat mengurangi efektivitas keduanya. Misalnya sama dengan pemberian bahan yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan waktu dan cara aplikasi agar masing-masing mikroorganisme dapat berkembang dengan optimal.
Penyakit hama pada tanaman tidak cukup diatasi hanya dengan penyemprotan fungisida. Kunci utamanya adalah pencegahan dengan memperbaiki kesehatan tanah, karena tanah merupakan ekosistem hidup yang menentukan kuat atau tidaknya tanaman menghadapi serangan penyakit. Dengan memanfaatkan mikroba baik seperti Trichoderma dan mikoriza, petani dapat membantu menekan patogen sekaligus memperkuat sistem perakaran tanaman. Jika keduanya diaplikasikan dengan cara yang tepat, maka tanah akan menjadi lebih sehat, tanaman lebih kuat, dan risiko serangan pada budidaya cabai dapat ditekan sejak awal.
- Menempel/Masuk ke Akar (Endomikoriza/Mikoriza Arbuskula):Hifa jamur menembus sel korteks akar untuk bertukar nutrisi secara langsung. Jenis ini sangat umum pada tanaman pertanian.
- Menempel di permukaan Akar (Ektomikoriza):Hifa jamur membentuk percepatan (mantel) padat yang membuat ujung akar dan tumbuh di antara sel epidermis, tanpa menembus ke dalam sel.
- Di Sekitar Akar (Rhizosfer):Hifa jamur meluas keluar dari akar ke dalam tanah. Jaringan hifa yang meluas ini bekerja sebagai perpanjangan akar, menjangkau zona yang lebih jauh untuk menyerap udara dan unsur hara (terutama fosfat) yang tidak terjangkau oleh akar tanaman.[ 1 , 2 , 3 ]
- Menempel di Akar: TrichodermaTumbuh cepat dan menempel di permukaan akar, membentuk lapisan pelindung fisik yang menghalangi masuknya patogen.
- Di Sekitar Akar: Trichodermahidup di daerah rhizosfer (sekitar akar) dan aktif mengurai bahan organik di tanah.
- Sifat Endofit:Beberapa jenis Trichodermadapat berasosiasi dengan menginfeksi atau menempel di sel akar (endofit) tanpa merugikan tanaman, membantu penyerapan hara.[ 1 , 2 , 3 , 4 , 5 ]
Kemampuan khusus: Meskipun suka asam, beberapa strain Trichoderma mampu beradaptasi dan meningkatkan pertumbuhan tanaman di tanah basa/salin melalui toleransi stres biotik.
Dampak pH: Trichoderma mampu menetralkan pH tanah secara perlahan.
Tanah Asam (Misal: Tanah Podsolik, Gambut):Trichoderma sangat disarankan untuk mengendalikan jamur patogen yang dominan di lingkungan tersebut. Tanah Basa/Alkalin (Misal: Tanah Kapur, Salin): Mikoriza sangat krusial untuk membantu tanaman menyerap nutrisi yang terikat oleh basa. Kombinasi: Aplikasi campuran Mikoriza + Trichoderma (Mikotricho) terbukti meningkatkan infeksi akar dan pertumbuhan tanaman (misal: tomat, kubis) secara efektif.
Jenis ini sering ditemukan pada permukaan akar (rizosfer), berperan menekan patogen tanah: [1, 2]
- Trichoderma harzianum (Sangat umum digunakan sebagai agens hayati)
- Trichoderma viride
- Trichoderma koningii
- Trichoderma asperellum (Sering digunakan karena adaptasi kuat)
- Trichoderma pseudokoningii
- Trichoderma longibrachiatum [1, 2, 3, 4]
Jenis yang mampu menembus jaringan akar dan hidup di dalamnya untuk meningkatkan ketahanan sistemik tanaman: [1]
- Trichoderma polysporum (Membentuk hubungan simbiosis endofitik)
- Trichoderma harzianum (T-22)
- Trichoderma asperellum [1, 2, 3]
Hifa jamur ini masuk ke dalam sel korteks akar dan membentuk struktur khusus (arbuskula) untuk pertukaran nutrisi: [1, 2, 3, 4]
- Glomus sp. (Contoh: Glomus intraradices)
- Gigaspora sp.
- Acaulospora sp.
- Scutellospora sp. [1]
Hifa jamur ini tidak masuk ke dalam sel akar, melainkan hanya berkembang di antara sel korteks dan membentuk selubung (mantel) di permukaan akar: [1, 2]
- Basidiomycetes (Kelompok jamur tertinggi pembentuk ektomikoriza)
- Ascomycetes
- Gasteromycetes [1]
- TrichodermaBertindak sebagai perisai (melindungi dari patogen) dan kadang masuk sebagai endofit untuk memacu pertumbuhan.
- MikorizaMemilih sebagai perluasan akar (membantu serapan nutrisi seperti Fosfor dan air).[ 1 , 2 ]
Simbiosis penyerapan nutrisi di lingkungan tanah basa
Simbiosis penyerapan nutrisi di lingkungan tanah basa (pH > 7,5) melibatkan mikroba yang melarutkan P, Fe, dan Zn yang terikat pada kalsium karbonat (CaCO3).Kunci utama adalah penggunaan Mikoriza Arbuskula untuk memperluas jangkauan akar dan Bakteri Pelarut Fosfat (seperti Bacillus & Pseudomonas ) yang menghasilkan asam organik untuk menghilangkan nutrisi yang berkaitan.
Jurnal Ilmiah Universitas Trunojoyo Madura
+3
Hal-hal Penting dalam Simbiosis di Tanah Basa:
) menjadi bentuk yang dapat diserap tanaman.Mikoriza Arbuskula (AMF): Jamur ini membentuk struktur arbuskula di dalam akar, meningkatkan penyerapan fosfor (P), zink (Zn), dan zat besi (Fe) yang sering tidak tersedia pada pH tinggi. Hifa mikoriza menjangkau area tanah yang tidak terjangkau akar untuk mengambil nutrisi dan udara.
Bakteri Pelarut Fosfat/Basa: Bakteri ini (contoh: Pseudomonas sp. dan Bacillus valezensis ) melepaskan asam-asam organik yang mampu memecah ikatan kalsium-fosfat (
Penyerap Nitrogen (Rhizobium): Pada tanah basa yang kaya bahan organik, simbiosis Rhizobium dan tanaman legum efektif dalam fiksasi nitrogen (N).
Peran Asam Organik: Mikroba tanah menurunkan pH lokal di sekitar akar (rhizosfer), yang penting untuk melarutkan unsur hara mikro yang mengendap di lingkungan alkali.
Aplikasi Inokulan: Untuk hasil optimal di tanah basa, aplikasi mikoriza (granul/bubuk) dan bakteri PGPR sebaiknya dilakukan secara langsung ke akar atau area perakaran saat tanam, karena jamur bersifat aerobik.
uin-malang.ac.id
+9
Manfaat Utama:
Simbiosis ini mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, meningkatkan ketahanan terhadap pemeriksaan kekeringan/salinitas, dan meningkatkan produktivitas tanah pada tanah yang kurang subur.
Jurnal STKIPMB
Trichoderma dan Mikoriza paling efektif diaplikasikan secara bergiliran atau dengan jeda waktu, bukan dicampur sekaligus dalam satu wadah saat aplikasi, meskipun keduanya dapat hidup bersamaan di tanah. Trichoderma sebaiknya diberikan lebih awal untuk menekan patogen, disusul Mikoriza agar tidak dimakan oleh Trichoderma saat inokulasi.
ResearchGate
+1
- Jeda Waktu (Bergiliran): Terapkan Trichoderma (sebagai agen biokontrol/kompos) terlebih dahulu. Berikan Mikoriza sekitar 1–2 minggu setelahnya, terutama saat penanaman di polibag atau lubang tanam agar Mikoriza dapat langsung menginfeksi akar.
- Aplikasi Bersamaan (Dengan Catatan): Jika terpaksa dilakukan sekaligus, pastikan keduanya tidak dicampur dalam solusi yang sama dalam waktu lama. Aplikasi terbaiknya adalah dengan menaburkan Mikoriza langsung di akar bibit, sementara Trichoderma diaplikasikan ke tanah atau media tanam.
- Sinergi dalam Tanah: Setelah keduanya terkolonisasi, Trichoderma akan melindungi akar dari jamur patogen, sementara Mikoriza meningkatkan penyerapan ai dan nutrisi.

Comments
Post a Comment